8/17/2012

khutbah idul fitri - kembali fitri


Kembali Fitri

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ


Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.
Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Alloh, SWT, yang masih memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada kita semua.
Perlu kita sadari , bahwa kita bisa berjalan, bukan karena kita memiliki sepasang kaki, tetapi lebih karena ruh kita masih diberikan kekuasaan oleh alloh SWT, sehingga kaki kita bergerak menurut perintah ruh kita. Orang yang berpenyakit semacam struk sehingga tidak bisa berjalan, sebetulnya hati dan pikiranya juga punya berkeinginan untuk berjalan, tetapi ruhnya sudah tidak diberi kuasa untuk memerintahkan kaki lagi, sehingga walaupun kakinya masih utuh dia tidak mampu berjalan.
Hadirin rokhimakumulloh …
Kita bisa berdiri dengan tegak juga karena karena ruh kita diberi kekuasaan oleh alloh untuk menjaga keseimbangan kita, Karena menurut teori, dengan luas telapak kaki kita yang sedemikian kecil seharusnya tidak mampu menyangga berat badan kita. Sebagai bukti, kalau ruh atau nyawa kita sudah lepas dari raga, tidak ada yang bisa mendirikan jasad tersebut dengan tegak dan seimbang.
Oleh karena itu, tidak sepantasnyalah kita mengingkari atau mengkufuri nikmat yang diberikan oleh Alloh, SWT. Dengan selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan kita.
Hadirin hadirot sidang jamaah idul fitri rokhimakumulloh . . . .
الله اكبر x3
Bulan romadhon telah berlalu, di hari yang mulya ini, kita merayakan hari kemenangan, karena telah berhasil mengendalikan hawa nafsu kita, dengan berbagai tantangan dan godaan. Berbagai hikmah, faredah dan kenikmatan puasa telah kita rasakan dan dosa-dosa kita yang telah lewat insya Aloh, diampuni oleh Allah Azza Wa Jalla, sebagaimana di jamin sendiri oleh Rasulullah saw. Dalam haditsnya, beliau bersabda :
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدّم من ذنبه
Artinya : “Barang siapa telah melaksanakan puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dri Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat”

Hari ini ketaqwaan kita juga bertambah , sesuai dengan tujuan diperintahkannya puasa, dalam QS Al baqoroh 183 :
Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.
Ibarat kupu kupu, kita baru saja keluar dari kepompong, yang sebelumnya berwujud ulat, setelah berhasil menahan lapar dan dahaga, semua sifat sifatnya berubah. Dari yang sebelumnya sering membuat gatal, menyakitkan, merusak dan merugikan lingkungan serta banyak dibenci, menjadi kupu kupu yang warna warni, menyenangkan, tidak pernah menyakitkan orang lain, bermanfaat membantu dan menolong sesama, dan tidak ada yang membencinya. Itulah gambaran yang diharapkan bagi orang yang telah selesai menjalankan puasa.
الله اكبر x3
Hari ini adalah hari raya Idul Fitri atau kembalinya jiwa dan raga kita kepada fitrah, jiwa yang suci, ibarat kertas putih yang bersih, akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya noda dan dosa kita kepada sesama manusia.
Dosa kita kepada sesama manusia, tidak bisa hilang atau terhapus dengan puasa dan istihgfar, tetapi kita harus memohon maaf dan memaafkan. Dosa kita kepada Orang tua, dosa kita kepada istri, dosa kita kepada suami, dosa kita kepada anak, dosa kita kepada tetangga, akan kita tuntaskan hari ini, marilah kita hidupkan silaturrahmi untuk saling maaf memaafkan, Dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:
Musa bin Imran as, berkata: Wahai Tuhanku diantara hamba-hamba-Mu, siapakah orang yang paling mulia dalam pandangan-Mu ? Allah Azza Wajalla menjawab, “ Orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas. “ ( HR. Imam Baihaqi )
Hadis riwayat Ibnu Hibban :

Maafkanlah , maka kalian akan bertambah sabar.
menghadapi kesalahan orang lain Allah swt menujukan tiga kelas manusia, sebagaimana yang terdapat dalam surat ali imran ayat 133 dan 134, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orasng-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang orang yang menahan amarahnya dan memmaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,”.(QS[3]:133-134).
manusia tingkatan yang pertama adalah manusia yang mampu menahan amarah atau al-Kazhimiin pada saat ada orang yang berbuat salah kepada kita,
Tingkatan yang kedua adalah manusia yang memaafkan atau al-Aafin, manusia ini tidak hanya mampu menahan amarahnya ketika ada orang lain yang berbuat salah kepadanya tetapi dia mampu dengan ikhlas memaafkannya.
Sedangkan manusia tingkat ketiga ( yang paling mulya dan disukai oleh alloh SWT ) , yakni manusia yang bukan sekedar mampu menahan amarah, atau mampu memaafkan kesalahan orang lain, tetapi lebih dari itu, manusia tersebut mampu berbuat baik kepada orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya.

الله اكبر x3
Hadirin hadirot sidang idul fitri rokhimakumulloh . . . .
Apabila kita tidak mau memaafkan orang lain, tentu dihatinya akan ada rasa dendam, Rasa ini akan menjadi energy negative dan merupakan beban bagi dirinya sendiri, menurut beberapa ahli, dapat menyebabkan penyakit struk, jantung, darah tinggi, rusaknya pencernaan dan insomnia karena selalu membawa kegelisahan, kecemasan dan tekanan negatif bagi dirinya sendiri. Hanya orang-orang bodoh yang tidak memiliki sikap pemaaf. Seorang sufi Syaqiq Al Zahid mengatakan ,’ Pada saat kamu teringat atau bertemu orang jahat, kemudian kamu tidak merasa belas kasihan kepadanya, berarti kamu lebih jahat dari dia.’ Dalam satu hadis disebutkan bahwa salat dan puasa belum cukup membawa seseorang ke surga sampai dadanya bersih dari dendam, hatinya penyayang, dan berbelas kasih terhadap sesama. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjelaskan, amal yang paling disenangi Allah SWT ada tiga, ‘ Memberi maaf sewaktu sempat membalas dendam, berlaku adil saat emosi, dan menaruh belas kasihan terhadap sesama hamba Allah.’ Sesungguhnya sikap lapang dada dan sikap saling memaafkan satu sama lain merupakan salah satu ajaran moral Islam yang mesti dijunjung tinggi.

الله اكبر x3
Hadirin hadirot rokhimakumulloh . . . .
Hari ini kita juga diharapkan, dapat kembali ke fitroh, yang diibaratkan seperti bayi, bukan berarti kita harus minta gendong lagi kepada orang tua kita, tetapi kita diharapkan dapat meniru sifat sifat bayi. Mari kita cermati sifat bayi, yang kami maksud disini bukan bayi yang baru lahir saja, tetapi bayi sampai dibawah umur dua tahun yang masih kelihatan sifat fitrahnya , yaitu diantaranya;
1. Bayi tidak pernah marah, tidak pernah emosi, kepada siapapun.
Kita orang dewasa, diharapkan menjauhi marah : Rosululloh bersabda ;

Jauhi Marah ( HR: Ibnu Abidunya )
2. Bayi tidak pernah dendam, bayi tidak pernah memiliki rencana akan membalas kesalahan orang lain.
3. Bayi tidak pernah berprasangka buruk ( su udhon) / curiga kepada siapapun, naum tetap hati hati dalam melangkah.
4. Bayi selalu menyenangkan siapa saja, dengan selalu tersenyum walaupun mungkin sedang ditakut takuti.
5. Bayi selalu memiliki rasa ingin tahu, dengan selalu bertanya dan mencoba sesuatu yang baru.
6. Bayi selalu berfikir tenang, tidak pernah gelisah apapun keadaannya, karena percaya bahwa Alloh SWT, pasti mentaqdirkan yang terbaik bagi dirinya, walaupun mungkin kelihatannya tidak menyenangkan.
7. Bayi selalu mudah tidur karena ketenangan jiwanya, karena merasa semuanya sudah ada yang menjaga dan sudah ada yang mengaturnya.
8. Bayi merupakan harapan orang tua, untuk dapat tumbuh menjadi manusia yang berguna, dan bermanfaaf bagi orang lain di kemudian hari.
Sesuai Hadis yang diriwayatkan Adliya;

Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat manusia lainnya
9. Bayi yang baunya selalu wangi dan harum, karena hanya makan makanan yang baik dan halal.
10. Bayi yang selalu bekerja keras untuk berlatih berjalan, menjalani hidup ini, walaupun sering jatuh atau gagal berkali kali , dia tidak kenal putus asa dari rahmad Alloh, SWT, karena kewajiban kita adalah berusaha, dan hasilnya ditentukan oleh Alloh, SWT. Rosululloh, bersabda :

Bekerjalah, karena usaha itu diwajibkan atas kalian ( HR : Tabrani )

Hadirin hadirot sidang idul fitri rokhimakumulloh . . . .
janji Rasulullah.saw yang patut untuk direnungkan. Beliau bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaknya dia bersilaturrahim, niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam syurga yang dijanjikan-Nya.” (HR. Ar-Rabii’)


Sufyan bin Uyainah Rahimahullohv berkata,
أَّشَدُّ النَّاسِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةٌ
رَجُلٌ كَانَ لَهُ عَبْدٌ فَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَفْضَلُ عَمَلًا مِنْهُ
وَرَجُلٌ لُهُ مَالٌ فَلَمْ يَتَصَدَّقْ مِنْهُ فَمَاتَ فَوَرَّثَهُ فَتَصَدَّقَ مِنْهُ
وَرَجُلٌ عَالِمٌ لَمْ يَنْتَفِعْ بِعِلْمِهِ فَعَلَّمَ غَيْرَهُ فَانْتَفَعَ بِهِ
“Orang yang paling besar penyesalannya pada hari kiamat nanti ada tiga; yaitu,
1. Seorang tuan yang memiliki budak, namun ternyata pada hari kiamat nanti amal budaknya lebih baik daripada amalnya;
2. Orang yang memiki harta namun ia tidak menyedekahkannya, lalu ia meninggal dunia sehingga hartanya diwariskan kepada ahli warisnya dan mereka menyedekahkannya; dan
3. Seorang alim (berilmu) yang tidak mengamalkan ilmunya, lalu ia mengajarkan kepada orang lain sedang ia mengamalkannya.” ( Shifatush Shafwah : 2/235).
Dan terkhusus kepada segenap ibu-ibu dan semua kaum wanita…, kami berwasiat sebagaimana apa yang dinasehatkan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah beliau menyampaikan khotbah Idul fitri, beliau mendatangi kaum wanita dan bersabda,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَإِنِّى أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
“Wahai segenap kaum wanita…, bersedekahlah, dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat kalian adalah mayoritas penghuni neraka.”
وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Karena sebab apa wahai Rasululloh ?” tanya mereka.
تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ
Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri ( tidak pandai berterimkasih  atas ) pemberian suami.” Jawab Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. (HR. Bukhari-Muslim).
Semoga kita dimudahkan, dan diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkan amalan-amalan ahli jannah ini. Amin.



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَّللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وْالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا اللَّهُمَّ احْفَظْنِا مِنْ بَيْنِ أيَدينَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ يَمِينِنَا وَعَنْ شِمَالِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا وَنعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar